Kenapa tidak Nge-Vlog Saja?
Tidak mauko bikin vlog saja? (kamu gak minat bikin vlog?)
Begitulah kira-kira pertanyaan beberapa rekan selama saya berada di India agar mengabadikan momen-momen selama tinggal di India selama dua setengah tahun. Beberapa tahun terakhir konten vlog menjadi salah satu hal yang begitu diminati oleh banyak masyarakat di berbagai kalangan, termasuk beberapa kenalan saya yang pernah berkuliah di universitas yang sama di India. Apalagi dunia vlogging sekarang ini tidak perlu modal yang besar untuk memulainya, cukup dengan sebuah ponsel pintar dan juga aplikasi untuk mengedit video. Serta dengan adanya adsense, vlogging bisa menjadi salah satu solusi untuk pendapatan pasif.
Bahkan sudah ada beberapa kenalan di India yang sukses dengan dunia vlogging-nya selama berkuliah di India dengan ratusan ribu pelanggan (subscriber). Kembali ke tajuk tulisan ini, kenapa saya lebih memilih nge-blogging dibandingkan nge-vlogging?
Menginvestasikan waktu untuk mengedit video mungkin menjadi alasan utama saya tidak memilih terjun ke ranah vlogging karena berdiskusi dengan beberapa rekan vlogger saat kuliah di India, mereka membutuhkan waktu berjam-jam untuk edit video. Jadi hal tersebut yang membuat saya mengurungkan niat untuk bergabung di ranah vlog.
Keengganan saya mengubah dialek/aksen/logat selama berkomunikasi dengan sesama penduduk Indonesia merupakan pertimbangan saya juga untuk tidak nge-vlog. diluar pilihan nge-vlog atau tidak, saya kagum dengan rekan-rekan dari Medan yang tetap menggunakan logatnya ketika berkomunikasi dengan sesama WNI (meski mereka juga merupakan mayoritas di kota domilisili saya di India), selain itu rekan-rekan dari suku Jawa, Sunda dan yang berasal dari Jabodetabek juga tidak merubah logat mereka ketika di India. Hanya beberapa kenalan dari Sulselbar yang cenderung kurang pede dengan logatnya. Hal ini yang menjadi motivasi saya memperkenalkan logat Makassar selama tinggal di India tanpa menggunakan istilah serta awalan dan akhiran yang sering digunakan di Sulselbar (-ko, -ji, -ki, -mi, dsb.). Bercermin dari alasan itu, saya mereka jika nanti beberapa kelompok orang Indonesia masih tidak terbiasa akan hal tersebut jika saya tetap nge-vlog dengan logat Makassar.
Jadi dua alasan tersebut yang menjadi alasan saya untuk tidak nge-vlog dan memutuskan nge-blog. ;)
Sebagai penutup, dari beberapa kenalan yang masih dan pernah nge-vlog di India, ini yang menjadi channel rekomendasi saya untuk disimak, terima kasih dan doakan saya konsisten menulis di blog ini. :D